apakah karakter bangsa indonesia ? bung Karno pernah manyatakan “pembentukan karakter bangsa ” , namun sudah puluhan tahun semenjak arahan tersebut di lantangkan, apakah kita sudah menemukan karakter bangsa ?
apa kita sudah yakin bahwa karakter bangsa indonesia adalah : santun, ramah, penuh senyum ?
apakah hal ini adalah karakter bangsa, atau sebenarnya ini bukanlah karakter kita ?
tentu kita pun akan berpikir ulang saat melihat fakta bahwa karakter-karakter yang baik ini juga di ikuti dengan tindakan-tindakan yang destruktive, brutalisme, pesimis, prejudis. Sejarah indonesia di penuhi dengan tindakan-tindakan anarkisme, seperti contoh umum : pembunuhan masaal anggota PKI yang massive, atau tindakan brutal rasisme terhadap etnis china thn 98.. juga adanya tindakan amoral atas nama agama, juga cara masyarakat umum untuk menyimpulkan masalah politik yang prejudis, walaupun di dukung sifat umum politikus yang membuat kita menjadi apati.
kita harus memulainya dari awal sejarah bangsa Indonesia, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat muda dan sangat unik. kita harus menyadari bahwa gagasan bangsa Indonesia di mulai pada awal abad 20, gagasan ini bisa terlaksana karena urgensi dari invasi belanda yang mulai sangat serakah di abad 18-19, VOC yang tadinya hanya berdagang dan bermain politik terhadap kerajaan lokal, berkembang menjadi penjajahan . tentu ini di ikuti oleh pemberontakan massal rakyat lokal. maka bisa di bilang gagasan bangsa INDONESIA tercipta karena urgensi bersatu untuk melawan penjajahan belanda.
adalah hal yang luar biasa bahwa bangsa ini bisa bersatu, mengingat negara ini adalah negara kepulauan dengan ratusan kerajaan besar maupun kecil, juga di diami oleh kebudayaan yang berbeda, dari sumatra , jawa, kalimantan, sulawesi, dan daerah timur lainnya yang bila kita runut adalah ras yang berbeda. maka bangsa ini bisa di bilang unik, negara indonesia adalah bangsa termuda dengan kepulauan yang di isi oleh ras yang sudah hidup selama ribuan tahun di tanah mereka, yang sudah memiliki karakter dan kebijakan masing-masing .
dengan fakta ini, tentu kita akan menghadapi kesulitan untuk membentuk karakter bangsa, sulit mencari benang merah karakter terhadap perbedaaan kebudayaan yang sudah lebih tua dari pada umur bangsa ini.
dapat di katakan bahwa indonesia belum dapat menyatakan sudah memiliki karakter bangsa.
namun, pembentukan karakter bangsa sangat di perlukan untuk menjaga esistensi bangsa ini, bukankah bangsa ini terbentuk karena urgensi dari penjajahan kolonialisme ? apa yang terjadi bila bangsa ini telah merdeka ? maka urgensi ini akan sangat rapuh. maka untuk menyatukan bangsa ini harus ada benang merah kesamaan karakter bangsa, bahwa kita semua adalah bangsa indonesia, bukan sukuisme, agamaisme atau perbedaan-perbedaan lainnya.
kita memang belum punya karakter ! namun inilah peluang kita, untuk mulai mencari dan akhirnya membentuk karakter bangsa yang utuh, dan memang fakta bahwa usia bangsa ini sangat belia di banding negara-negara lain yang eksistensinya sudah lama walupun sempat di jajah namun tetap satu bangsa yang sama.
inilah yang membuat bangsa indonesia unik. maka persatuan akan kebangsaan indonesia adalah urgensi yang baru, dengan masih mudanya bangsa ini, maka akan ada pemikir-pemikir baru, pemimpin-pemimpin baru, filsuf-filsuf baru yang akan lahir dari anak bangsa yang pada akhirnya akan membentuk karakter bangsa dan akan menjaga eksistensi dari keberadaan bangsa ini.
kita belum memiliki karakter! maka inilah peluang kita untuk membentuk karakter bangsa yang lebih baru, lebih kuat, lebih pluralis. inilah kesempatan kita untuk membangun bangsa yang lebih unggul, bangsa yang kuat bangsa yang berkarakter .
bangkitlah bangsa INDONESIAK
Minggu, 04 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011
Kencangkan Ikat Pinggang
Berbagai "upaya telah dilakukan untuk "mendapatkan" dan "mengalokasikan" anggaran. Tidak terlalu penting mencari tau bagaimana "mendapatkan" dan "mengalokasikan" serta apa "hasil" dari anggaran itu: bermanfaat atau tidak, memberi dampak pada hidup masyarakat atau tidak. Lupakan hal itu. Penting, tapi bukan prioritas, paling tidak dalam topik kali ini. Yang utama adalah yang terdengar atau terbaca; "program itu telah meringankan beban masyarakat yang menjadi prioritas kita semua" (ini juga dikutip dari beberapa statemen di media). Tidak juga penting mengetahui "meringankan" bagaimana, "beban" bagaimana, "masyarakat" yang mana, dan "kita" itu siapa saja.
Itulah propaganda.
Propaganda adalah seruan sistematis dalam bentuk doktrin atau informasi untuk mengalihkan dan atau membalikkan pandangan dan kecenderungan dari satu doktrin atau pandangan lain. Propaganda dalam konteks ini, biasanya berhubungan dengan produk, baik barang maupun jasa, yang bisa dituangkan dalam bentuk iklan, sistim kehumasan, dll.
Tapi secara umum, propaganda adalah upaya sistimatis untuk memanipulasi perilaku, keyakinan dan tindakan dari masyarakat melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gerakan anggota badan, slogan, bendera dan seragam. Ide, fakta dan "sandiwara" diluncurkan untuk mendukung atau menentang sesuatu. Faktor yang membedakan antara propaganda dengan informasi adalah terletak pada pemilihan "tema" dan "pemanipulasian"nya.
Sehingga walaupun bentuknya berupa informasi, tapi propaganda itu sendiri penekanannya adalah untuk mempengaruhi opini (dan perilaku) – dan bukan sekedar menginformasikan apa adanya, dari banyak orang (numbers of people).
Dan karena propaganda menyangkut banyak orang, maka media yang paling efektif adalah dengan menggunakan media massa – dalam artian banyak pembaca, pendengar, atau penonton, terlepas medianya adalah media cetak atau media elektronik.
Propaganda mulai dikenal sejak diluncurkannya Congregation for Propagating The Faith (Congregatio de Propaganda Fide) yang diluncurkan oleh Paus Gregory XV pada tahun 1622, yang dibuat untuk mendukung kegiatan dakwah gereja. Istilah ini menemukan puncaknya pada zaman Hitler, ketika Kementrian Propaganda dibentuk dimana "otak"nya yang terkenal adalah Joseph Goebbels – yang duduk sebagai Menteri Propaganda. Ia berhasil mengontol media, film, teather, terbitan dan kesenian, bahkan memiliki Kantor Film Propaganda sendiri. Begitu luarbiasanya memformat sebuah tema, sehingga sering tidak lagi jelas mana propaganda, mana persepsi dan mana fakta. Paul Joseph Goebbels dianggap sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern. Teknik jitu hasil kepiawaiannya dikenal dengan nama Argentum ad nausem atau lebih populer dengan istilah big lie (kebohongan besar). Prinsip dari teknik itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Ia juga memelopori penggunaan siaran radio sebagai media propaganda massal.
Tapi yang harus digaris bawahi, propaganda lebih berhubungan dengan emosi, dan jauh dari daya tarik intelektual. Propaganda akan menemukan bentuktnya yang sempurna ketika dikemas dengan iklan dan kehumasan. Dalam sejarahnya yang panjang, propaganda disamping telah digunakan untuk tujuan keagamaan seperti dilakukan Gereja Katolik dan Protestan, propaganda kemudian lebih kental digunakan dalam konteks politis, baik oleh pemerintah, partai politik, termasuk untuk tujuan "menyembunyikan" keinginan tersembunyi mereka. Di sini, propaganda sudah sangat fokus dan spesifik, yaitu membangun persepsi dan memanipulasi pandangan dari banyak orang.
Inilah propaganda yang dimaksudkan oleh Richard Alan Nelson dalam A Chronology and Glossary of Propaganda in the United States (1996) sebagai "rayuan yang dilakukan untuk mempengaruhi emosi, perilaku, pendapat dan tindakan dari target masyarakat tertentu".
Tidak heran bila propaganda sering diidentikkan dengan cuci otak (brainwashing), dan bukan sekedar bujukan (persuasion) atau instruksi (instruction). Popaganda dalam hal ini juga berbeda dari indoktrinasi, karena yang terakhir ini bisa diterapkan tanpa pencucian otak. Istilah cuci otak sendiri merupakan terjemahan dari istilah China: xi nao, yang berarti reformasi pemikiran (thought reform), ketika Partai Komunis berkuasa pada 1949 dan "mendidik ulang" (reeducation) para orang berpendidikan dan kelas menengah. Upaya yang sama juga dilakukan terhadap para tahanan selama Perang Korea.
Propaganda dalam kaitannya dengan cuci otak juga dikenal sebagai minds control – dan inilah yang paling populer, dimana propaganda "hanya" menyampaikan yang baik-baik saja – dengan rutin dan sistematis, dengan menyembunyikan yang buruk-buruk atau bahkan membungkusnya dengan rasionalisasi-rasionalisasi sehingga sebuah kegagalan paling tidak bisa "diterima" dengan gegap gempita.
Tidak salah membuat propaganda. Tapi masalah mulai muncul ketika propaganda dibuat untuk menutupi borok yang kita ciptakan, sehingga tinja akan terlihat seperti emas. Pada zaman orde baru misalnya, ketika kemiskinan begitu mengharu biru, seruan kencangkan ikat pinggang begitu gencar dilakukan. Tapi apa arti kencangkan ikat pinggang bagi yang memang tidak memiliki makanan, seperti mengajak menolak ratusan juta yang memang tidak kita dimiliki.
Propaganda – pada level terburuknya, akan membawa pada "penerimaan keterpurukan" bahkan "penolakan" terhadap kesejahteraan – yang sering kita jadikan domain pengabdian, yang seharusnya menjadi milik kita semua.
Tapi diakui atau tidak, propaganda hanya muncul dari orang-orang yang tidak berdaya, seperti sekumpulan orang lemah sahwat yang mengagungkan hebatnya jamu sehat lelaki, tetapi pada hakekatnya hanyalah sekumpulan orang-orang loyo dan memble.
Dengan menyampaikan apa adanya, pada awal dan akhirnya adalah kita belajar untuk jujur …
Itulah propaganda.
Propaganda adalah seruan sistematis dalam bentuk doktrin atau informasi untuk mengalihkan dan atau membalikkan pandangan dan kecenderungan dari satu doktrin atau pandangan lain. Propaganda dalam konteks ini, biasanya berhubungan dengan produk, baik barang maupun jasa, yang bisa dituangkan dalam bentuk iklan, sistim kehumasan, dll.
Tapi secara umum, propaganda adalah upaya sistimatis untuk memanipulasi perilaku, keyakinan dan tindakan dari masyarakat melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gerakan anggota badan, slogan, bendera dan seragam. Ide, fakta dan "sandiwara" diluncurkan untuk mendukung atau menentang sesuatu. Faktor yang membedakan antara propaganda dengan informasi adalah terletak pada pemilihan "tema" dan "pemanipulasian"nya.
Sehingga walaupun bentuknya berupa informasi, tapi propaganda itu sendiri penekanannya adalah untuk mempengaruhi opini (dan perilaku) – dan bukan sekedar menginformasikan apa adanya, dari banyak orang (numbers of people).
Dan karena propaganda menyangkut banyak orang, maka media yang paling efektif adalah dengan menggunakan media massa – dalam artian banyak pembaca, pendengar, atau penonton, terlepas medianya adalah media cetak atau media elektronik.
Propaganda mulai dikenal sejak diluncurkannya Congregation for Propagating The Faith (Congregatio de Propaganda Fide) yang diluncurkan oleh Paus Gregory XV pada tahun 1622, yang dibuat untuk mendukung kegiatan dakwah gereja. Istilah ini menemukan puncaknya pada zaman Hitler, ketika Kementrian Propaganda dibentuk dimana "otak"nya yang terkenal adalah Joseph Goebbels – yang duduk sebagai Menteri Propaganda. Ia berhasil mengontol media, film, teather, terbitan dan kesenian, bahkan memiliki Kantor Film Propaganda sendiri. Begitu luarbiasanya memformat sebuah tema, sehingga sering tidak lagi jelas mana propaganda, mana persepsi dan mana fakta. Paul Joseph Goebbels dianggap sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern. Teknik jitu hasil kepiawaiannya dikenal dengan nama Argentum ad nausem atau lebih populer dengan istilah big lie (kebohongan besar). Prinsip dari teknik itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Ia juga memelopori penggunaan siaran radio sebagai media propaganda massal.
Tapi yang harus digaris bawahi, propaganda lebih berhubungan dengan emosi, dan jauh dari daya tarik intelektual. Propaganda akan menemukan bentuktnya yang sempurna ketika dikemas dengan iklan dan kehumasan. Dalam sejarahnya yang panjang, propaganda disamping telah digunakan untuk tujuan keagamaan seperti dilakukan Gereja Katolik dan Protestan, propaganda kemudian lebih kental digunakan dalam konteks politis, baik oleh pemerintah, partai politik, termasuk untuk tujuan "menyembunyikan" keinginan tersembunyi mereka. Di sini, propaganda sudah sangat fokus dan spesifik, yaitu membangun persepsi dan memanipulasi pandangan dari banyak orang.
Inilah propaganda yang dimaksudkan oleh Richard Alan Nelson dalam A Chronology and Glossary of Propaganda in the United States (1996) sebagai "rayuan yang dilakukan untuk mempengaruhi emosi, perilaku, pendapat dan tindakan dari target masyarakat tertentu".
Tidak heran bila propaganda sering diidentikkan dengan cuci otak (brainwashing), dan bukan sekedar bujukan (persuasion) atau instruksi (instruction). Popaganda dalam hal ini juga berbeda dari indoktrinasi, karena yang terakhir ini bisa diterapkan tanpa pencucian otak. Istilah cuci otak sendiri merupakan terjemahan dari istilah China: xi nao, yang berarti reformasi pemikiran (thought reform), ketika Partai Komunis berkuasa pada 1949 dan "mendidik ulang" (reeducation) para orang berpendidikan dan kelas menengah. Upaya yang sama juga dilakukan terhadap para tahanan selama Perang Korea.
Propaganda dalam kaitannya dengan cuci otak juga dikenal sebagai minds control – dan inilah yang paling populer, dimana propaganda "hanya" menyampaikan yang baik-baik saja – dengan rutin dan sistematis, dengan menyembunyikan yang buruk-buruk atau bahkan membungkusnya dengan rasionalisasi-rasionalisasi sehingga sebuah kegagalan paling tidak bisa "diterima" dengan gegap gempita.
Tidak salah membuat propaganda. Tapi masalah mulai muncul ketika propaganda dibuat untuk menutupi borok yang kita ciptakan, sehingga tinja akan terlihat seperti emas. Pada zaman orde baru misalnya, ketika kemiskinan begitu mengharu biru, seruan kencangkan ikat pinggang begitu gencar dilakukan. Tapi apa arti kencangkan ikat pinggang bagi yang memang tidak memiliki makanan, seperti mengajak menolak ratusan juta yang memang tidak kita dimiliki.
Propaganda – pada level terburuknya, akan membawa pada "penerimaan keterpurukan" bahkan "penolakan" terhadap kesejahteraan – yang sering kita jadikan domain pengabdian, yang seharusnya menjadi milik kita semua.
Tapi diakui atau tidak, propaganda hanya muncul dari orang-orang yang tidak berdaya, seperti sekumpulan orang lemah sahwat yang mengagungkan hebatnya jamu sehat lelaki, tetapi pada hakekatnya hanyalah sekumpulan orang-orang loyo dan memble.
Dengan menyampaikan apa adanya, pada awal dan akhirnya adalah kita belajar untuk jujur …
Kamis, 01 Desember 2011
Makna Pendidikan
Bisa kita bayangkan bagaimana jika posisi yang penting dinegara ini dipegang oleh orang yang pintar namun memiliki moral yang buruk, maka mereka akan selalu mempergunakan ilmu tersebut untuk kepentingannya tanpa memperdulikan akibat yang terjadi dilingkungannya. Kepintaran yang dipakai oleh orang yang bermoral buruk akan dipergunakan untuk kebohongan.
Kejujuran menjadi hal yang tidak berarti dalam dunia kerja, kebaikan tidak mendapatkan perhatian yang berarti, dan orang yang bertanggung jawab sudah sangat sulit didapat dalam perkembangan jaman saat ini. Pada hal semua hal ini sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kebahagian yang merata, sehingga kecukupan itu tidak hanya dimiliki beberapa orang namun merata kebanyak orang.
Saat ini tujuan pendidikan sudah jauh dari maksudnya, ilmu tidak lagi menjadi terapan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, namun cukup sekedar tertulis dan diungkapkan dengan lidah kemudian dinilai seberapa lancar mereka mengucapkannya.
Semoga jika maksud penulis menjadi seorang pengajar kesampaian, mudah-mudahan diberi kemudahan dalam menjelaskan ilmu pengetahuan kepada anak didik nantinya agar ilmu pengetahuan tidak sekedar coretan dengan angka-angka dan huruf-huruf.
Kejujuran menjadi hal yang tidak berarti dalam dunia kerja, kebaikan tidak mendapatkan perhatian yang berarti, dan orang yang bertanggung jawab sudah sangat sulit didapat dalam perkembangan jaman saat ini. Pada hal semua hal ini sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kebahagian yang merata, sehingga kecukupan itu tidak hanya dimiliki beberapa orang namun merata kebanyak orang.
Saat ini tujuan pendidikan sudah jauh dari maksudnya, ilmu tidak lagi menjadi terapan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, namun cukup sekedar tertulis dan diungkapkan dengan lidah kemudian dinilai seberapa lancar mereka mengucapkannya.
Semoga jika maksud penulis menjadi seorang pengajar kesampaian, mudah-mudahan diberi kemudahan dalam menjelaskan ilmu pengetahuan kepada anak didik nantinya agar ilmu pengetahuan tidak sekedar coretan dengan angka-angka dan huruf-huruf.
Langganan:
Postingan (Atom)